Industri

BERITA UMKM
BERITA UMKM

Berita Terbaru Industri

Lihat Semua Berita
Industri1 Oktober 2026

Mendag Tetap Kawal Kualitas Produk UMKM yang Berhasil Masuk Ritel

JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso memastikan akan terus mengawal kualitas produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang telah menembus pasar ritel modern dan pasar ekspor. Hal itu dilakukan melalui pembinaan dan pendampingan berkelanjutan. “Oh ya, kami terus (melakukan pelatihan dan pembinaan). Pasti itu. Jadi, pola kemitraan tidak hanya berhenti ketika sudah dapat market atau pasarnya atau tempatnya, tidak hanya sampai di situ. Tetapi keberlanjutan produk, keberlanjutan kualitas terus dijaga,” kata Budi Santoso di Jakarta, Kamis (9/7/2026). Budi mengungkapkan, pembinaan berkelanjutan dilakukan agar pelaku UMKM mampu mempertahankan standar mutu serta berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor. Pembinaan dilakukan mulai dari peningkatan kualitas produk hingga pendampingan dalam memenuhi standar pasar. “Semua dilakukan demi mempertahankan keberhasilan UMKM, sekaligus mempertahankan kepercayaan konsumen dan mitra usaha,” tegas dia. Pola ini, menurut Mendag Budi Santoso, juga diterapkan kepada UMKM yang telah berhasil memasuki pasar ekspor, termasuk pengawasan kualitas produk sejak pengiriman pertama hingga berikutnya. Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global Ilustrasi produk UMKM. Foto: Ist. “Ekspor itu terutama UMKM ya. UMKM itu bahkan kami awasi dari kontainer yang pertama itu ketika bagus, kontainer yang kedua harus bagus. Kadang-kadang kalau UMKM kan suka begitu, kontainer kedua mulai berkurang. Nah, itu tidak boleh,” tandas dia. Mendag Budi menjelaskan, kualitas tinggi adalah syarat utama agar produk UMKM terus bertahan di jaringan ritel modern. “Maka kami terus mengawasi untuk memastikan dari awal sampai akhir itu kualitasnya harus terjaga,” tegas Budi. Kemenperin dan BI Dorong 250 UMKM Terapkan Industri Ramah Lingkungan Budi Santoso menambahkan, program pelatihan mencakup pengembangan desain produk, peningkatan kualitas produksi, hingga pelatihan ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Produk yang dipasarkan, kata Budi, telah memenuhi standar ritel modern dan menerapkan proses kurasi secara bertahap. “Kurasi empat bulan. Jadi proses kurasinya dari 81 UMKM tinggal 11. Itu proses yang dilakukan Kemendag, kemudian nanti kami lakukan semacam business matching,” tutur dia. Mendag Budi berharap pola tersebut mampu melahirkan dan menumbuhkan banyak UMKM Indonesia yang dapat bertahan dalam jangka panjang dengan kualitas produk yang tinggi. (ant)

Industri1 Oktober 2026

Prabowo: Koperasi Merah Putih Akan Salurkan Kredit Super Mikro dengan Bunga 8%

JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Presiden Prabowo Subianto memastikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan menjadi pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi, salah satunya menyalurkan kredit skala mikro dengan bunga 8%. Menurut Presiden Prabowo, KDKMP tidak hanya akan berperan sebagai koperasi simpan pinjam yang dananya bersumber dari simpanan anggota. KDKMP juga akan menyediakan layanan kredit mikro dan super mikro. “Koperasi ini nanti tidak hanya untuk simpan pinjam, tetapi akan ada gerai simpan pinjam kredit yang murah, kredit mikro dan kredit super mikro,” kata Prabowo pada peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (12/7/2026). Kepala Negara mengungkapkan, salah satu fasilitas pembiayaan yang akan disediakan KDKMP adalah kredit tanpa agunan Mekaar. Masyarakat dapat mengakses pembiayaan dengan suku bunga 8% per tahun. Bunga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan bunga kredit selama ini yang mencapai 22%. Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global Ilustrasi para pelaku usaha mikro. Foto: Pertamina. “Yang tadinya bunganya 22%, saya turunkan jadi 8%. Dibandingkan dengan 22%, lumayan 8%, betul tidak?!” ujar Prabowo. Selain menyediakan akses pembiayaan, kata Presiden Prabowo, KDKMP bakal dikembangkan sebagai pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi. Berbagai fasilitas akan tersedia dalam satu lokasi, mulai dari toko sembako, hingga layanan simpan pinjam. KDKMP, menurut Prabowo, juga akan membuka apotek desa yang menyediakan obat-obatan generik dengan harga lebih terjangkau, pusat logistik, gudang penyimpanan, hingga gudang pendingin untuk menjaga kualitas hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan komoditas lainnya agar tidak cepat rusak. Kemenperin dan BI Dorong 250 UMKM Terapkan Industri Ramah Lingkungan Prabowo menegaskan, KDKMP akan menjadi jalur utama penyaluran berbagai barang subsidi pemerintah agar tepat sasaran. Seluruh barang subsidi harus diterima langsung oleh masyarakat yang berhak dan tidak boleh diperjualbelikan. “KDKMP nanti akan jadi pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi,” tandas dia. (han)

Industri1 Oktober 2026

Industri Intan di Kalsel Akan Dihidupkan Lagi, Perkuat UMKM, Ekraf, dan Pariwisata

BANJARMASIN, UMKMTRUST.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel berencana menghidupkan kembali industri intan di Kabupaten Banjar. Kolaborasi ini akan memperkuat ekonomi kreatif (ekraf), memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendongkrak pariwisata. “Dalam kerja sama ini, Pemprov Kalsel dan BI Kalsel akan memanfaatkan aset BI di Kabupaten Banjar yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penggosokan intan,” tutur Tenaga Ahli Gubernur Kalsel, M Amin di Banjarmasin, Kamis (16/7/2026). Rencana tersebut, menurut Amin, telah disampaikan dalam audiensi Pemprov Kalsel dengan BI Kalsel sebagai tindak lanjut rapat koordinasi pengembangan batu mulia bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Provinsi Kalsel/Laboratorium Sertifikasi Batu Mulia. “Kami berkoordinasi untuk pemanfaatan kembali aset milik BI yang telah cukup lama tidak digunakan untuk mendukung pengembangan industri intan daerah. Karena sekarang ada Balai Pengujian Batu Mulia, kami ingin aset itu bisa dimanfaatkan kembali,” ujar dia. Dia mengungkapkan, aset tersebut memiliki nilai strategis karena masih menyimpan berbagai peralatan penggosokan dan pemotongan intan berkualitas tinggi yang dapat mendukung pengembangan industri batu mulia di Kalsel. Sebagian peralatan di lokasi itu, kata Amin, merupakan perangkat khusus yang didatangkan langsung dari Belanda, sehingga memiliki nilai penting dalam mendukung proses pengolahan intan secara lebih profesional. Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global Pendulang intan di kawasan pendulangan Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka Kota, Banjarbaru, Kalsel. Foto: Antara. “Di bangunan itu masih ada peralatan untuk cutting dan penggosokan intan yang mungkin tidak ada di tempat lain,” ucap dia. Amin menegaskan, Pemprov Kalsel masih menunggu keputusan BI pusat karena kewenangan pemanfaatan aset tersebut berada pada pihak pemilik. Adapun pemda berupaya menyiapkan ekosistem pendukung bagi pengembangan industri intan. Sementara itu, Kepala Divisi Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel, Mukti Rigowo menyambut baik inisiatif Pemprov Kalsel membangkitkan kembali potensi industri intan sebagai salah satu sektor unggulan daerah. “Kami segera meneruskan ke BI pusat karena kewenangan pengambilan keputusan berada di pusat,” kata dia. Industri Besar di Kaltara Diminta Serap Produk UMKM Lokal Mukti menjelaskan, dukungan BI Kalsel diberikan sesuai tugas dan kewenangan lembaga, sedangkan keputusan akhir terkait penggunaan aset akan ditentukan oleh pusat melalui mekanisme pengelolaan aset yang berlaku. Mukti Rigowo menambahkan, pemanfaatan aset tersebut dirancang sejalan dengan pembangunan Gedung Galeri Batu Mulia Provinsi Kalsel yang akan menjadi pusat promosi, edukasi, pameran, dan pemasaran batu mulia. Lokasi yang direncanakan berdekatan dengan aset BI di Kabupaten Banjar. Melalui kolaborasi tersebut, menurut dia, Pemprov Kalsel dan BI berupaya agar industri intan kembali berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif daerah, memperkuat peran pelaku UMKM, sekaligus meningkatkan daya tarik wisata berbasis kekayaan lokal Kalsel,” papar dia. (ant)

Industri1 Oktober 2026

16 Juta Ton Limbah Sawit Bisa Diolah Menjadi Produk Kerajinan UMKM dan Industri

JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Indonesia memiliki potensi sekitar 16 juta ton limbah sawit berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) setiap tahun yang dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan dan kebutuhan industri bernilai tambah tinggi. Jika dimanfaatkan secara optimal, limbah sawit tersebut tidak hanya menjadi sumber bahan baku baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga membuka peluang usaha sekaligus mengurangi limbah dari industri kelapa sawit. Dosen sekaligus peneliti Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin mengungkakan, selama ini sebagian besar limbah sawit hanya dimanfaatkan sebagai pupuk organik di sekitar pabrik. Padahal, melalui inovasi dan pengembangan teknologi, limbah tersebut dapat diolah menjadi beragam produk yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi. “Pasokan TKKS melimpah setiap tahun, sehingga potensinya sangat besar,” ujar Nikmatin dalam keterangan, Senin (27/7/2026). Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global Menurut Nikmatin, volume limbah kelapa sawit di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya produksi tandan buah segar (TBS). Dengan asumsi sekitar 23% dari TBS berubah menjadi tandan kosong dan kadar bahan kering mencapai 35%, potensi ketersediaan TKKS di Indonesia diperkirakan mencapai 16 juta ton per tahun. “Setiap hari limbah kelapa sawit terus menumpuk di pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Karena itu, pemanfaatannya menjadi produk bernilai tambah sangat penting,” ucap dia. Ilustrasi Pekerja mengumpulkan buah sawit di perkebunan sawit di Belitung, Babel. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal Nikmatin menjelaskan, bahan baku tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk UMKM, mulai dari kerajinan hingga kebutuhan industri. Salah satu contohnya telah dikembangkan oleh PT Intertisi Material Maju (IMM) yang mengubah TKKS menjadi helm, tas, alas kaki, batik, rompi antipeluru, hingga filter air conditioner (AC) kendaraan bermotor. “Saat ini saya mengolah tandan kosong di PT IMM menjadi berbagai produk UMKM bernilai tambah. Bahan bakunya saya ambil dari PTPN maupun IPB,” tutur dia. Industri Besar di Kaltara Diminta Serap Produk UMKM Lokal Pengembangan produk berbasis limbah sawit tersebut, kata Siti Nikmatin, berawal dari kegiatan riset sejak 2015 yang pendanaannya didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Dukungan tersebut berperan penting dalam mendorong lahirnya inovasi pengolahan limbah sawit menjadi produk yang memiliki daya saing. Selain meningkatkan nilai ekonomi, menurut dia, pemanfaatan limbah sawit memberikan manfaat bagi lingkungan karena mengurangi volume limbah industri. “Dari sisi sosial, pengembangan produk berbasis TKKS turut membuka peluang pemberdayaan masyarakat di sekitar perkebunan dan pabrik pengolahan melalui keterlibatan dalam proses produksi,” papar dia. Nikmatin mengemukakan, optimalisasi limbah kelapa sawit menunjukkan bahwa industri sawit tidak hanya menghasilkan minyak, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menciptakan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan produk samping yang selama ini belum dimaksimalkan. Dia menambahkan, ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi modal penting bagi pengembangan UMKM berbasis sawit di berbagai daerah sentra perkebunan. “Pemanfaatan limbah kelapa sawit memiliki potensi besar untuk mendorong tumbuhnya usaha yang berkelanjutan. Apalagi, pasokan limbah kelapa sawit di Indonesia sangat melimpah,” tegas Nikmatin. (piq)

Industri1 Oktober 2026

Industri Besar di Kaltara Diminta Serap Produk UMKM Lokal

TANJUNG SELOR, UMKMTRUST.ID – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) meminta investor dan industri besar yang beroperasi di provinsi itu menyerap produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. “Investor dan industri besar yang beroperasi di Kaltara tidak boleh mendatangkan bahan baku atau kerajinan dari luar daerah jika potensi tersebut bisa dipenuhi oleh UMKM kita,” ujar Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltara, Denny Hariantoi di Tanjung Selor, Provinsi Kaltara, Selasa (21/7/2026). Denny mengharapkan industri besar juga memberikan pendampingan aktif agar UMKM di Kaltara tidak berjuang sendirian dalam meningkatkan kualitas produk dan kapasitas usaha. Karena itu, menurt dia, Pemprov Kaltara meluncurkan program Sistem Integrasi Nilai Ekonomi Rantai Global Industri untuk Kalimantan Utara (Sinergi Kaltara) sebagai langkah strategis menghubungkan UMKM dengan rantai pasok industri besar di daerah. Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global “Saya ingin mengingatkan bahwa sektor UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang terbukti tetap bertahan saat krisis seperti masa pandemi Covid 19 dan masa-masa krisis lainnya,” tutur dia. Itu sebabnya, kata Denny Hariantoi, ia sangat mengapresiasi peran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltara bersama berbagai pihak lainnya yang membuka ruang bagi UMKM Kaltara untuk berusaha dengan menggelar Festival Rakyat Kaltara 2026. umkm Kemenperin dan BI Dorong 250 UMKM Terapkan Industri Ramah Lingkungan “Kami ingin ada pendampingan yang matang agar para pelaku usaha meraih keuntungan nyata dan berkelanjutan. Perputaran uang di masyarakat harus terus berjalan positif,” ucap Denny. Sementara itu, Ketua Kadin Kaltara, Kilit Laing mengungkapkan, terdapat 50 stan UMKM yang dihadirkan dalam Festival Rakyat Kaltara 2026 pada 9-20 Juli. “Kami hadirkan 50 stan jajanan kuliner dari pelaku UMKM lokal untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar dia. (ant)

Industri1 Oktober 2026

Pelaku UMKM Harus Punya 3 Kunci untuk Menembus Pasar Global

JAKARTA, UMKMTRUST.ID – Ada tiga kunci yang harus dimiliki para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengtah (UMKM) agar produknya mampu menembus pasar global. Ketiga kunci itu adalah pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, penguatan kemitraan, dan perluasan akses pasar. Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Wamen UMKM), Helvi Moraza menerangkan, ketiga aspek tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Digitalisasi harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha, sedangkan kemitraan diperlukan untuk memperkuat kapasitas dan rantai pasok. “Adapun akses pasar menjadi pintu bagi produk UMKM untuk masuk ke pasar internasional,” ujar Helvi dalam webinar RRI Fest 2026 yang digelar secara daring, Kamis (3/9/2026). Menurut Helvi Moraza, digitalisasi harus bergerak dari sekadar go online (masuk platform daring) menjadi go productive (meningkatkan produktivitas). Teknologi harus digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengelola keuangan dan persediaan, membaca kebutuhan konsumen, serta menciptakan inovasi. Dia menjelaskan, transformasi digital menjadi penting karena pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya membuat produk UMKM hadir di platform digital. “Teknologi harus memberikan dampak langsung terhadap kemampuan usaha dalam mengelola produksi, keuangan, persediaan, pemasaran, dan pengembangan produk,” ucap dia. Kunci kedua, menurut Helvi, adalah kemitraan. Pelaku UMKM jangan membangun bisnis secara sendiri-sendiri. Kolaborasi dengan perusahaan berskala besar, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga pembiayaan, distributor, hingga perguruan tinggi diperlukan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan standar dan kualitas produk. “UMKM perlu aktif membangun jejaring dengan usaha skala besar, BUMN, lembaga pembiayaan, distributor, hingga perguruan tinggi. Kolaborasi ini penting untuk memperkuat rantai pasok dan standar kualitas,” papar dia. Kunci ketiga, kata Helvi Moraza, yaitu perluasan akses pasar menjadi kunci ketiga. Peluang bagi UMKM Indonesia untuk masuk ke pasar internasional semakin terbuka, salah satunya melalui kegiatan business matching (temu bisnis) dengan pembeli dari luar negeri. Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan, transaksi business matching antara UMKM dan pembeli internasional mencapai US$57,61 juta sepanjang Januari-April 2025 melalui 246 kegiatan. Angka tersebut menunjukkan adanya permintaan pasar internasional yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memperluas pasar. Wamen UMKM mengungkapkan, peluang itu juga didukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Nilai gross merchandise value (GMV) atau nilai transaksi bruto perdagangan digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$99 miliar. Perdagangan secara elektronik (e-commerce) sebagai salah satu kontributor terbesar. Helvi Moraza menuturkan, dari sektor ekonomi kreatif, peluang ekspor juga terbuka, terutama pada subsektor fesyen. Berdasarkan data hingga April 2026, subsektor tersebut menyumbang 58,55% dari total ekspor barang kreatif nasional. Dia menambahkan, pasar halal global pun menjadi ceruk yang potensial. Nilai pasar halal dunia diproyeksikan mencapai US$3,36 triliun pada 2028, membuka peluang bagi produk Indonesia untuk memperluas penetrasi di berbagai pasar internasional. Helvi menegaskan, untuk menangkap peluang tersebut, Kementerian UMKM terus memperkuat ekosistem pendukung bagi pelaku usaha. Salah satunya melalui integrasi platform layanan terpadu SAPA UMKM untuk mempermudah pelaku usaha memperoleh informasi, mengakses sertifikasi, dan mendapatkan pembiayaan. Helvi menekankan, penguatan ekosistem tersebut diarahkan agar UMKM Indonesia tidak hanya menjadi konsumen atau penonton dalam pertumbuhan ekonomi global, tetapi mampu mengambil posisi dalam rantai nilai global. “Kita ingin UMKM Indonesia bukan hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi global, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai global. Kami mengajak pengusaha UMKM untuk tidak sekadar menunggu, tetapi berani mencari dan membuka pasar baru,” tandas Helvi. (han)